Oleh: Komunitas AB | April 23, 2011

LOMBA MENULIS KEMANUSIAN

LOMBA MENULIS CERITA KOMUNITAS AB

“BERBAGI UNTUK KEMANUSIAAN”

BEKERJA SAMA DENGAN

SEKOLAH TINGGI MENULIS JOGJA – SATISFINE IDEA PRODUCTION

Batas pengiriman naskah: 10 Mei 2011

Gagasan

Bencana alam silih berganti datang. Di dalam negeri ada letusan Gunung Merapi dan Gunung Bromo. Di luar negeri ada gempa dan tsunami di Jepang. Tak terbilang korban mati dan luka berjatuhan.

Musibah sakit pun menghampiri banyak saudara. Kanker, gagal ginjal, dan berbagai kecelakaan telah banyak merenggut nyawa manusia, selain derita berkepanjangan bagi mereka yang mengalaminya.

Namun, di balik itu, aksi-aksi kemanusiaan pun seperti tak pernah kehabisan nafas. Setiap kali ada bencana, selalu saja muncul aksi-aksi penggalangan bantuan. Setiap ada yang tersungkur, selalu saja ada yang terketuk hatinya menjadi relawan. Ternyata, banyak cinta di dunia.

Mereka yang mampu secara finansial membantu dana. Mereka yang mampu secara intelektual membantu pemikiran. Mereka yang mampu secara mental membantu mengevakuasi korban. Mereka yang mampu secara moral melakukan donor darah. Mereka yang mampu secara spiritual membantu dalam doa dan sapaan.

Bencana pun seolah membawa berkah. Nurani terasah. Aksi tergugah. Sekali lagi, ternyata, banyak cinta di dunia.

Komunitas AB, yakni komunitas pemilik golongan darah AB di Indonesia yang berpusat di Yogyakarta, dalam rangka mensyukuri hari jadi ke-3, mengajak Anda berbagi cerita lewat Lomba Menulis Cerita Komunitas AB ini. Kami yakin, sekecil apa pun, Anda punya pengalaman berbagi untuk saudara yang ditimpa musibah. Ceritakanlah pengalaman itu. Kabarkan kepada dunia betapa menyala-nyala cinta Anda untuk sesama.

Anda yang pernah menjadi relawan di Aceh, Jogja, Wasior, atau di mana pun, ceritakanlah apa yang Anda lakukan, apa yang Anda jumpai, bagaimana Anda mengatasi kesulitan di lokasi.
Anda yang pernah membuka posko penggalangan dana di rumah atau di kantor, ceritakanlah apa yang menggerakkan Anda untuk meluangkan waktu dan tenaga, bagaimana antusiasme saudara, teman kantor, atau simpatisan lain dalam memberikan bantuan.
Anda yang selalu mentransfer uang, mengumpulkan pakaian bekas, berbelanja kebutuhan korban, setiap kali ada bencana, tuturkanlah bagaimana Anda mau merelakan harta Anda untuk mereka yang tidak Anda kenal.
Anda yang kerap mendapatkan telpon tengah malam dari orang yang membutuhkan darah, tuturkanlah bagaimana Anda mengatasi rasa kantuk dan capek demi orang yang sedang memperjuangkan hidup, bagaimana Anda menembus dingin untuk mengejar detik-detik penyelamatan nyawa entah siapa.
Anda yang berprofesi sebagai dokter, perawat, polisi, tentara, SAR, pemadam kebakaran, sukarelawan PMI, aparatur pemerintah, yang tak pernah bisa libur, bahkan malah lembur tanpa batas waktu, ungkapkanlah apa yang membuat Anda bertekun dalam dinas, bagaimana Anda berdamai dengan rasa lelah, bagaimana Anda mengorbankan waktu pribadi.

Banyak kisah di hidup Anda. Kami tidak mencari kisah yang heroik, yang hebat. Kami mencari cerita yang sederhana namun inspiratif, seperti tema lomba ini “Berbagi untuk Kemanusiaan”.

Syarat Lomba:

Lomba berlaku untuk umum.
Naskah non fiksi ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Naskah harus asli, berdasarkan pengalaman pribadi peserta, bukan terjemah, saduran, atau comotan ide dari karya lain yang sudah ada. Jika dibutuhkan, peserta siap dihubungi panitia untuk mempertanggungjawabkan keaslian naskah.
Naskah tidak mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), pornografi, dan sadisme.
Naskah belum pernah diterbitkan di media massa/buku (cetak maupun elektronik), dilombakan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain. Pelanggaran atas ketentuan ini otomatis menggugurkan keikutsertaan peserta.
Atas karya yang menang, Panitia Lomba Menulis Cerita Komunitas AB berhak menerbitkannya dalam bentuk buku, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Komunitas AB.
Naskah yang masuk menjadi hak panitia dan tidak dikembalikan.
Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.

Ketentuan Teknis:

Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu judul tulisan.
Naskah ditulis di “catatan/notes” Facebook [tag ke 30 teman, termasuk FB Sekolah Tinggi Menulis Jogja] dan wajib dikirimkan ke email lombastmj@gmail.com [attach file di MS Word, bukan di badan email, dengan subjek Lomba Menulis Cerita Komunitas AB]. Panjang tulisan 800 – 1.200 kata.
Setiap naskah yang dikirimkan wajib dilampiri:
a) biografi singkat penulis [nama, alamat, nomor kontak]

b) scan/fotokopi KTP/tanda pengenal yang masih berlaku

c) nomor rekening bank atas nama peserta [boleh disusulkan jika dinyatakan menang]

4. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 10 Mei 2011.

Hadiah:

Pemenang 1: uang tunai Rp 2.000.000 (dua juta rupiah) + piagam
Pemenang 2: uang tunai Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) + piagam
Pemenang 3: uang tunai Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) + piagam
Pemenang 4-10: uang senilai @ Rp 200.000 (dua ratus ribu rupiah) + piagam
Ketentuan Khusus:

1) Pengumuman pemenang akan dimuat di Facebook Sekolah Tinggi Menulis Jogja dan website http://www.solusiide.com pada tanggal 17 Mei 2011.

2) Penganugerahan pemenang akan dilakukan di Yogyakarta pada 22 Mei 2011, bertepatan dengan perayaan 3 tahun Komunitas AB. Hadiah akan ditransfer via bank ke rekening peserta. Piagam akan dikirimkan via pos ke alamat pemenang di wilayah Indonesia.

3) Pemenang akan mendapat pemberitahuan langsung dari Panitia Lomba Menulis Cerita Komunitas AB lewat email lombastmj@gmail.com.

4) Panitia tidak melayani korespondensi dalam bentuk apa pun berkaitan dengan lomba ini.

Lomba ini diselenggarakan oleh Komunitas AB, dan didukung oleh Sekolah Tinggi Menulis Jogja dan Satisfine Idea Production.

source : http://solusiide.com/ide/2011/04/12/lomba-menulis-cerita-komunitas-ab/

Oleh: Komunitas AB | Oktober 13, 2010

Buka puasa bersama

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Buka Bersama Anggota Komunitas AB  28 Agustus 2010

Warung BG 13 ULU Jl. Prof.  DR  Soepomo No.65

Janturan, Umbulharjo, Jogja

Oleh: Komunitas AB | Juni 2, 2010

Karakteristik Golongan Darah AB

By : zeezha  Anwar

Kepribadiannya :

Orang yang di dalam tubuhnya mengalir golongan darah AB punya watak yang lain dari yang lain. Kalau boleh disebut, perangainya sangat istimewa yang merupakan gabungan watak atau sifat golongan darah A dan B. Begitu istimewanya, sampai-sampai isi hatinya sulit sekali ditebak, apalagi jalan pikirannya.

Kalau dari kulitnya, penampilannya sehari-hari misalnya, lebih condong ke orang yang memiliki golongan darah B, seperti mudah bergaul, selalu optimis dan pendiriannya keras serta suka dipuji. Tapi sebenarnya hatinya sih cenderung ke golongan darah A. Suka mengalah dan murah hati.Bahkan teman-teman dekatnya pun sering menyebutnya sebagai manusia aneh. Habis wataknya bisa berubah 180 derajat hanya dalam waktu sekian menit. Misalnya sedang marah, tiba-tiba dia bisa tertawa terbahak-bahak.

Begitu juga jika sedang santai misalnya, bisa saja tiba-tiba dia jadi sedih.Hanya saja orang yang punya golongan darah AB suka kurang percaya diri. Bawaanya selalu curiga!

Tempramentnya :

– Pertimbangan dan analisisnya tajam

– Pandai membina hubungan

– Kontrol emosinya kurang

– Tertarik akan fantasi / dongeng

– Berkonsentrasi tinggi tapi tidak bisa mempertahankannya

– Membenci kemunafikan

Kelebihannya :

– Ceria, manis, cerdas

– Loyal, pandai, adil

– Suka memberi bantuan

– Berkepala dingin

– Memiliki keinginan besar

– Efisien, cepat dalam menangkap hal penting

– Hobinya banyak

– Konsisten

– Sopan, rendah hati, sederhana

Kekurangannya :

– Tekadnya kurang bulat

– Tidak suka mengambil resiko

– Tidak terlalu mementingkan formalitas

– Kurang menyenangkan

– Pandai dalam pembenaran diri

– Kurang sabar

– Monoton

– Berkarakter ganda

– Mudah menyerah

– Tidak membereskan apap yang telah dilakukan

– Tidak cukup kebebasan

– Suka mengkritik

– Sering menyakiti perasaan orang lain

umber: http://insansains.wordpress.com/2007/10/06/rahasia-pada-golongan-arahanda

Oleh: Komunitas AB | September 24, 2009

Sejarah terbetuknya Komunitas AB

Berikut adalah kutipan surat pembaca Sdr. Imam Maulana pada harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 2007.

Mari Membentuk Komunitas AB
Assalamu’alaikum Wr Wb.
SETELAH
beberapa kali melakukan donor darah,  (kebetulan saya memiliki golongan darah AB) terbersit ide untuk membentuk “Komunitas AB” yaitu kumpulan orang-orang yang memiliki golongan darah AB.
Ada beberapa pertimbangan untuk hal ini, pertama karena jumlah orang yang memiliki golongan darah AB tidak sebanyak golongan darah lainnya, sehingga ketika ada seseorang yang memiliki golongan darah AB jika mengalami kondisi (misal kecelakaan atau akan operasi) yang membutuhkan bantuan darah AB, biasanya kesulitan mencari pendonornya.
Kedua, sebagai bentuk  kepedulian sosial bagi kita yang memiliki golongan darah AB, apalagi di tengah kondisi bangsa kita yang banyak mengalami musibah dan bencana, mungkin hal kecil ini bisa turut serta memberi kontribusi.
Komunitas ini terbuka bagi siapapun tanpa memandang suku, agama, ras ataupun golongan, yang penting memiliki golongan darah AB. Bagi pembaca yang memiliki respons atau gagasan dan ide lainnya bisa menghubungi kami di nomor 08562898432 (Imam Maulana ST), Jl Magelang, Kutu Asem RT 01 RW 16, Sleman, Yogyakarta atau email: letc_community@yahoo.com. q – g. (2526-2007).
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Imam Maulana ST, Jl Magelang
Kutu Asem RT 01 RW 16, Sleman, DIY, Email: letc_community@yahoo.com.

Oleh: Komunitas AB | September 22, 2009

ultah Komunitas AB

ketua komunitas AB (Imam) memberi sambutan

ketua komunitas AB (Imam) memberi sambutan

bp asep memberi sambutan

bp asep memberi sambutan

pengurus komunitas AB dan jajaran Bank BNI

pengurus komunitas AB dan jajaran Bank BNI

penyerahan kenang-kenangan kaos Komunitas AB

penyerahan kenang-kenangan kaos Komunitas AB

bagi-bagi doorprize

bagi-bagi doorprize

102_0598102_0676anggota komunits yg hadir pd cara ultah komunitas AB di BNI jl Trikora

anggota komunits yg hadir pd cara ultah komunitas AB di BNI jl Trikora
Oleh: Komunitas AB | September 16, 2009

fakta tentang golongan darah

Mungkin kita tidak asing lagi dengan golongan darah A, B, AB dan O. Tapi sebenarnya bukan O tapi 0 (nol).

* Golongan Darah A : Memiliki sel darah dengan antigen A
* Golongan Darah B : Memiliki sel darah dengan antigen B
* Golongan Darah AB : Memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B
* Golongan Darah 0 : Memiliki Sel darah tanpa antigen

Jadi penyebutannya itu berasal dari antigen yang dimilikinya. Disebut A karena memiliki antigen A, B karena antigennya B, AB karena punya A dan B, sedangkan 0(nol) karena tidak memiliki antigen. Namun karena dalam bahasa Inggris 0 (nol) sering dibaca O, maka mereka membacanya O. Tapi maksud sebenarnya adalah nol.
Persepsi keliru golongan darah

Saat ini mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa golongan darah O bisa dipakai untuk penderita golongan darah lain (A, B, dan AB), karena itu golongan darah O disebut sebagai Universal Donor. Itu tidak benar. Karena pemberian golongan darah O kepada golongan lain berhubung pada kenyataan sering menimbulkan efek sampingan pada penderita. Terlebih bila di dalam plasma donor golongan 0 ini terdapat anti A dan anti B yang bertiter tinggi (1/64). Di negara-negara lain anggapan golongan darah O sebagai Universal Donor tidak dianut lagi, kecuali kalau diberikan dalam bentuk Packed Red Cells.
Namun anehnya mengapa ini masih diajarkan di pelajaran sekolah di Indonesia??? Memang secara teori dulu seperti itu. Tapi ilmu pengetahuan sekarang sudah lebih baik lagi melihat reaksi serius yang ditimbulkan.

G.B Elliott dalam jurnalnya “Transiently Dangerous Universal Blood Donor” mengatakan bahwa Universal Donor itu berbahaya. Dan sebenarnya pernyataan “Dengerous Universal Donor” ini sudah diperkenalkan oleh Levine dan Mabee di tahun 1923.

Penerapan Universal Donor mungkin hanya bisa diterapkan untuk keadaan gawat darurat, dimana pasokan darah tipe yang sama sangat sulit didapatkan.
Jumlah Pemilik Golongan Darah

Sering timbul pertanyaan, golongan darah apa sih yang terbanyak dan terlangka?
Untuk Indonesia, menurut jumlah anggota golongandarah.net :

1. O : 568
2. B : 401
3. A : 325
4. AB : 203

Sedangkan di seluruh Dunia. Rata-rata populasi terbanyak adalah golongan darah O, disusul A, B, lalu AB.
Golongan Darah Terlangka

Sebenarnya ada satu golongan darah yang tidak masuk dari 4 jenis diatas, yaitu Bombay Blood. Dari namanya sudah dapat ditebak. Bombay, itu nama kota di India. Diberi nama Bombay karena pertama kali diketemukan pada tahun 1952 di Bombay, India. Darah ini sangat langka, hanya timbul 1 dari 250.000. Golongan O biasanya mengandung H substance yang paling banyak. Karena itu sel O bereaksi paling kuat dengan anti H, tetapi Bombay Blood Oh justru sama sekali tidak memberikan reaksi dengan anti H. Sel Oh Bombay Blood ini tidak beraksi dengan anti A, anti B dan anti H. Bombay Blood terjadi karena mutasi fucosyltransferase. Karena itu mungkin mereka memiliki jenis darah yang berbeda.

Di Indonesia ada dua kasus yang ditemukan di LPTD-PMI Jakarta dimana kasus pertama N K seorang anak perempuan dengan golongan darah O, berumur satu tahun, dan A K juga seorang anak wanita, dengan golongan darah O, berumur delapan tahun. Coba bayangkan betapa kasiannya anak-anak itu jika tidak menemukan donor yang sesuai.

disadur dari :enorockz artsmosphere blog

Oleh: Komunitas AB | September 15, 2009

Buka Puasa Bersama

buka puasa Komunitas AB Jogja: mempererat persaudaraan

buka puasa Komunitas AB Jogja: mempererat persaudaraan

Untuk terus mempererat persaudaraan anggota, Komunitas AB menggelar acara buka puasa bersama di rumah Ibu Suharjono di Jl Gondosuli 14 Yogyakarta, Minggu, 13 September 2009. Bapak Suharjono, sang suami, adalah anggota Komunitas AB. Namun, beliau tidak tinggal di Jogja karena bertugas sebagai Ketua PN Samarinda, Kalimantan Timur.

Cukup banyak anggota yang hadir sore itu. Ada sekitar 50 orang, dari yang muda hingga yang sepuh. Kakung-putri, semua ada. Duduk lesehan di ruang keluarga Ibu Suharjono, kami berbincang dengan akrab satu sama lain. Ya, sembari menunggu saat-saat berbuka, kami bertukar informasi, mengajukan usul untuk kemajuan komunitas, dan berdiskusi ringan tentang langkah-langkah Komunitas AB ke depan. Ada anggota yang sharing tentang sulitnya mencari darah AB bagi keluarganya, ada yang mengusulkan agar komunitas AB menjadi organisasi yang lebih dari sekadar berurusan dengan donor-mendonor darah.

Pengurus Komunitas AB yang hadir, yakni Mas Arif, Mas Taufik, Mas Kunto, Mas Andar, Pak Parjiman, Mbak Jija, dan Mbak Aim pun menanggapi “mandat” anggota tersebut dengan sukacita. Kebetulan, pengurus sedang mempersiapkan pendirian badan hukum bagi perkumpulan ini. Ibu Suharjono, yang kebetulan bekerja sebagai notaris, bersedia untuk memfasilitasi pendirian ini. Dengan adanya badan hukum, maka sepak-terjang komunitas, termasuk kerjasama dengan pihak-pihak yang bersimpati dengan gerakan kemanusiaan ini, akan lebih leluasa. Perluasan jaringan pemilik golongan darah AB pun akan lebih menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Sehingga, keterbatasan kepemilikan golongan darah AB ini bisa diatasi dengan keguyuban seluruh pemilik golongan darah AB.

PADAHAL TEMAN YANG BERGOLONGAN DARAH SAMA DENGAN ANDA JUMLAHNYA AMAT TERBATAS !

 

Senin tanggal 31 Agustus 2009, jarum jam menunjukkan pukul 16.37 WIB. Saat itu saya sedang rapat dengan tetangga untuk merenovasi Mushalah di lingkungan, tiba-tiba masuk sebuah panggilan tak dikenal ke nomor telpon seluler. Seperti biasa, saya selalu sungkan menerima panggilan yang tidak terekam dalam memori apalagi saat itu sedang sibuk. Tapi entah kenapa jemari tangan kanan refleks menekan tombol yes. Langsung terjadi percakapan. Di seberang sana ada suara seorang lekaki. Singkatnya, ia sangat membutuhkan pertolongan saya. Pak Suharno, nama pria itu, menyebutkan istrinya, ibu Enny sedang dirawat di RS St. Carolus Jakarta, sangat membutuhkan darah bergolongan AB dari reshus factor negative (Rh-). Terbata-bata ucapannya dan penuh harap saya bisa menolong istrinya yang sedang sangat menderita karena sakitnya, harus dioperasi malam itu.

 

Kalau awalnya Pak Harno yang sangat panik, tetapi seterima permintaan mendadak itu justru berbalik saya yang menjadi panik. Naluri kemanusiaan saya muncul tinggi. Rapat yang saya pimpin dibatalkan sementara di tengah jalan. Saya segera pulang ke rumah, dengan maksud akan menemukan pendonor bergolongan darah AB dari database anggota FOKUSWANDA (Forum Komunikasi Dermawan Darah 100 kali) di laptop. Malang benar, laptop saya sejak dua hari ini ngadat sama sekali. Akhirnya, saya hanya bisa memberi saran pendek kepada Pak Harno, tidak berbuat apapun yang berarti. Tengah malamnya, sebuah surel dari mbak Olga P masuk ke Blackberry saya, berpesan hal yang sama. Saya berfikir, pasti ibu Enny sedang butuh pertolongan teramat sangat. Dua bulan sebelum itu, seorang ibu yang mengaku bernama Nanik, pukul sembilan malam telpon saya minta tiga pendonor darah bergolongan darah AB untuk membantu keponakannya yang tengah kritis di rumah sakit akibat kecelakaan lalulintas fatal.

 

Hampir setiap dua bulan sekali saya menerima permintaan dari penelpon yang tidak saya kenal. Intinya, mereka minta dicarikan pendonor darah bergolongan AB di Jakarta, untuk kebutuhan mendesak. Sebagai pejuang kemanusiaan, saya tidak pernah kenal siapa yang saya tolong dan merekapun tidak pernah kenal siapa yang menolongnya. Memang itu tidak sangat penting. Pendonor darah sukarela, menurut WHO adalah Pahlawan Kemanusiaan yang Tak Dikenal !

 

Selidik punya selidik, para penelpon tersebut mencari tahu tentang Komunitas Golongan Darah AB melalui internet. Ada yang menemukan situs Golongandarah.net yang saya ikut membidaninya pada Januari 2007, dan ada pula yang langsung menemukan KOMUNITASAB. Dari pengelola situs di Jogyakarta, mereka mendapatkan nomor telpon pribadi saya. Sejatinya, saya memang adalah anggota pertama KOMUNITASAB di wilayah Jakarta sejak 27 Mei 2008, selang beberapa hari website diluncurkan. Sejujurnya saya tidak terusik atau marah dengan gangguan panggilan telpon itu. Justru kini saya tergerak untuk mendirikan KOMUNITASAB di Jakarta, secepatnya. Setidaknya untuk wilayah Jakarta Selatan lebih dahulu.

 

Meski baru mendapatkan dua nama lengkap dengan nomor telponnya, sekaligus sudah mengantongi konfirmasi dari Mas Fathoni dan bung Ardo, maka direncanakan di penghujung Oktober 2009 akan ada pertemuan awal di rumah saya di kawasan Cipete Selatan. Saya berharap, diawali terbentuknya KomunitasAB Jakarta Selatan kemudian bertahap akan merambah luas ke seantero DKI atau bahkan sampai Jabodetabek. Untuk KomunitasAB JS sedikitnya akan diikuti minimal 50 orang. Optimis ? Kenapa tidak, toh pejuang kemanusiaan dimanapun akan selalu komit dengan prinsip kejuangannya.

 

Mas Arif Agus di Jogya, mas Akbar wartawan TEMPO dan mbak Lusiana dari KOMPAS di Jakarta, adalah anak-anak muda yang mendukung gagasan ini. Saya pun telah memesan banyak T-Shirt KomunitasAB dari mas Arif, untuk dimiliki oleh (calon) anggota nanti.

 

Apa perlunya pemilik golongan darah AB bergabung dalam komunitas yang intens ini ? Menurut situs KomunitasAB, hanya sekitar satu prosen dari pendonor darah yang bergolongan AB. Sementara rekap database FOKUSWANDA,  angka prosentase itu sedikit lebih besar yaitu 5 sampai 7 prosen dari komunitas pendonor darah yang memiliki golongan AB. Memang tidak ada angka pasti, PMI pun tidak memiliki data itu.

 

Karena minoritasnya pemilik golongan darah AB (meski kerap disebut golongan darah biru) maka yang mampu menolong dan memberikan bantuan kepada Anda hanyalah rekan Anda yang bergolongan darah sama. Agar saat genting tidak sulit mencari lokasi rekan Anda dan informasi tentang kedonordarahannya, saya mengajak semua pendonor darah sukarela yang bergolongan AB di Jakarta Selatan, bergabung ke dalam KomunitasAB ini. Di kumpulan ini pasti banyak yang dapat kita lakukan secara bersama demi kemanusiaan.

 

Datanglah ke rumah saya hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2009 pukul 10-12 di Jl. Rawamaja No. 35 Cipete Selatan. Mudah saja, Anda masuk ke jalan Abdul Madjid (dekat ITC Fatmawati), di sekitar kompleks Deplu bertanyalah di sana. Untuk pergabungan awal ini, saya berharap Anda memberikan konfirmasi kehadiran selambatnya Jumat 23 Oktober. Telponlah atau kirimkan sms rekonfirmasi Anda ke nomor HP saya 0811 1989925 atau email: arimanku@yahoo.com.

 

Saya hakkulyakin, Insyaallah banyak teman yang menyambut ajakan ini. Jangan terlambat agar tidak menyesal karena sulit mencari pertolongan sejawat. (aku)

 

Wassalam,

 

Ariman K. Usman

Oleh: Komunitas AB | September 11, 2009

Sulitnya Mencari “Setetes” Darah

Kompas Minggu, 23 Agustus 2009 | 03:12 WIB

Oleh Budi Suwarna

Mencari darah untuk keperluan transfusi bukan perkara mudah. Jika persediaan darah di PMI tidak ada, orang harus pontang-panting mencari sendiri siapa pun yang bersedia menjadi donor.

Kunto (32), karyawan sebuah perusahaan penerbitan buku di Yogyakarta, pernah mengalaminya. Tahun 1993, dia mengalami kecelakaan sepeda motor di Jalan Kaliurang, Sleman, yang membuat kaki kanannya patah. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan, kaki Kunto harus dioperasi sesegera mungkin. Jika terlambat, kaki itu terancam diamputasi.

Vonis itu disampaikan pagi hari beberapa saat setelah Kunto dirawat. Namun, operasi tidak bisa segera dilakukan karena pihak rumah sakit tidak memiliki persediaan darah golongan AB yang sesuai dengan golongan darah Kunto. Keluarga Kunto pun menghubungi unit transfusi PMI. Sialnya, persediaan darah AB di sana sedang kosong.

”Keluarga saya lalu mencari donor ke sana kemari. Mereka menghubungi kerabat, teman, hingga kenalan di Seminari Kentungan,” tutur Kunto, Selasa (18/8). Sore hari, barulah keluarga Kunto berhasil mengumpulkan beberapa donor bergolongan darah AB. Dari mereka terkumpul lima kantong darah yang digunakan untuk operasi sore itu juga. ”Berkat kedermawanan mereka, kaki saya tidak diamputasi,” tambah Kunto.

Situasi serupa dialami Nurmala (70), seorang ibu rumah tangga di Kebayoran Lama, Jakarta. Seperti diceritakan anaknya, Kiki (30), Nurmala terkena demam berdarah pada tahun 2007. Ketika masuk rumah sakit, kondisinya buruk. Pukul 10.30 dokter memutuskan Nurmala harus mendapatkan transfusi darah. ”Kami langsung mencari darah A untuk ibu ke PMI. Ternyata stok darah A habis,” tutur Kiki, Jumat (21/8).

Kiki pun panik. Di tengah kepanikannya, dia menelepon teman sekantornya untuk minta tolong dicarikan donor. Teman-teman Kiki pun bergerak cepat. Tengah malam, mereka berhasil mengumpulkan 10 pendonor darah. Darah merekalah yang akhirnya menyelamatkan nyawa ibunda Kiki. ”Saya sangat terharu dengan kejadian itu. Bayangkan, para pendonor itu tidak kenal saya. Tapi, mereka mau datang ke PMI malam-malam untuk menyumbangkan darah buat ibu saya.”

Buat Kunto dan Kiki, pengalaman mencari darah waktu itu tidak akan pernah terlupakan. ”Ternyata mencari darah itu susah. Mudah-mudahan, kejadian seperti itu tidak akan pernah terulang lagi,” ujar Kunto. Kurang stok PMI memang sering mengalami defisit persediaan darah. Pasalnya, antara persediaan dan permintaan darah memang jomplang.

Pada dialog peringatan Hari Donor Darah Sedunia Tahun 2008 terungkap, kebutuhan darah di Indonesia per tahun rata-rata 4,3 juta kantong. Namun, persediaan rata-rata hanya 1,2 juta. Artinya, ada defisit 3,1 juta kantong darah per tahun. Persediaan yang ada pun, kata Ketua Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) Jakarta Pamudji R Soetopo, bisa merosot pada saat-saat tertentu, seperti menjelang dan setelah Lebaran.

”Biasanya, dua pekan sebelum dan setelah Lebaran, persediaan darah PMI merosot 50-60 persen karena para pendonor banyak yang pulang kampung atau sibuk menyiapkan hari raya Lebaran. Padahal, orang yang butuh darah saat itu justru meningkat karena banyak kecelakaan lalu lintas,” kata Pamudji yang juga Ketua Forum Komunikasi Dermawan Darah (Fokuswanda).

Persediaan darah yang minim di PMI tidak pelak membuat Kunto dan Kiki masih sering waswas. ”Saya khawatir kalau saya suatu ketika sakit dan butuh transfusi darah lagi. Soalnya darah AB seperti yang mengalir di tubuh saya ini susah didapat,” ujar Kunto. Oleh karena itu, ketika Kunto membaca surat pembaca yang ditulis Imam Maulana tentang perlunya membuat komunitas orang bergolongan darah AB, Kunto langsung menghubungi Imam.

Pada akhir 2007, mereka pun berhasil membentuk Komunitas AB. Saat ini, jumlah anggotanya sekitar 300 orang, tersebar di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Jakarta, Jepara, dan Klaten. Mereka siap mendonorkan darah pada situasi darurat. ”Kami membentuk komunitas ini karena orang bergolongan darah AB di Indonesia tergolong minoritas. Dari 100 orang, hanya satu atau dua yang bergolongan darah AB,” kata Imam (28).

Selain komunitas AB, ada komunitas orang dengan golongan darah rhesus negatif—golongan darah yang sangat langka di Indonesia. Ada pula Fokuswanda yang anggotanya 3.500 orang di seluruh Indonesia. Mereka adalah pendonor yang telah menyumbangkan darahnya lebih dari 100 kali. Sekretaris Jenderal Fokuswanda Ariman K Usman, Jumat, mengatakan, organisasinya memiliki data pendonor dan golongan darahnya. ”Kalau ada orang yang butuh darah, kami tinggal menghubungi anggota yang golongan darahnya cocok,” kata Ariman. (Lusiana Indriasari)

Oleh: Komunitas AB | November 22, 2008

Artikel Lain

Berpikir serius
Seorang pemikir, baik yang berpikiran sederhana dan dangkal (sathhî), yang mendalam (`amîq) ataupun yang tercerahkan (mustanîr), harus selalu serius dan sungguh-sungguh di dalam berpikir. Memang benar, seseorang yang berpikir sederhana dan dangkal (al-mufakkir as-suthhî), kesederhanaan atau kedangkalannya dalam berpikir tidak akan membantunya untuk berpikir serius. Akan tetapi, ketika dia berusaha menjauhkan diri dari kesia-siaan dan keterbiasaan (rutinitas) berpikirnya yang sederhana dan dangkal, dia akan mampu berpikir serius.

Keseriusan dalam berpikir tidak selalu membutuhkan kedalaman, meskipun kedalaman dalam berpikir jelas akan mendorong pelakunya untuk senantiasa berpikir serius. Keseriusan dalam berpikir juga tidak selalu membutuhkan kecemerlangan, meskipun kecemerlangan berpikir meniscayakan keseriusan dalam berpikir. Alasannya, keseriusan dalam berpikir tidak lain adalah berpikir yang memiliki tujuan (bukan asal berpikir) yang didukung oleh adanya usaha untuk merealisasikannya, di samping disertai dengan adanya gambaran yang baik tentang fakta yang akan atau sedang dipikirkan.

Berpikir tentang suatu bahaya, misalnya, bukanlah semata-mata dimaksudkan untuk membahas tentang adanya bahaya tersebut, tetapi dalam rangka menjauhinya. Berpikir tentang makan bukanlah dimaksudkan sekadar membahas aktivitas makan, tetapi dalam rangka mengupayakan bagaimana caranya supaya bisa makan. Berpikir tentang permainan juga bukan semata-mata membahas tentang permainan tersebut, tetapi ditujukan dalam rangka ikut bermain. Berpikir tentang keindahan bukan pula sekadar membahas keindahan tersebut, tetapi dimaksudkan untuk menikmatinya. Berpikir tentang perjalanan tanpa tujuan tertentu bukanlah semata-mata memikirkan perjalanan tersebut, tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan kebosanan. Berpikir tentang pembuatan undang-undang bukan pula dimaksudkan sekadar untuk membahas undang-undang tersebut, tetapi ditujukan dalam rangka membuat undang-undang. Begitu juga dengan berbagai aktivitas berpikir lainnya, bagaimanapun jenisnya, intinya adalah berpikir tentang sesuatu atau berpikir tentang bagaimana merealisasikan sesuatu yang dipikirkan itu.

Berpikir tentang sesuatu mesti dimaksudkan dalam rangka mengetahuinya. Sementara itu, berpikir tentang realisasi sesuatu tersebut harus ditujukan dalam rangka mewujudkannya. Dalam dua keadaan tersebut (yakni berpikir tentang sesuatu dan realisasinya), tidak boleh ada unsur kesiasiaan. Keterbiasaan (rutinitas) berpikir tentang sesuatu atau tentang bagaimana merealisasikannya juga tidak boleh mempengaruhi seseorang ketika ia ingin berpikir serius. Jika seorang pemikir telah berhasil menjauhkan kesiasiaan dan rutinitas dalam berpikirnya, berarti dia telah berhasil mewujudkan upaya berpikir serius. Pada saat demikian, sangat mudah baginya —meskipun bukan sebuah keniscayaan— untuk mewujudkan tujuan dan berupaya untuk merealisasikannya. Lebih dari itu, akan sangat mudah, bahkan sebuah keniscayaan, baginya untuk mewujudkan gambaran tentang fakta yang ditujunya atau yang dipikirkannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, keseriusan dalam berpikir sangat mungkin dilakukan baik dalam cara berpikir sederhana dan dangkal (sathhî), mendalam (`amîq), ataupun tercerahkan (mustanîr). Memang, secara mendasar, berpikir mendalam dan berpikir yang tercerahkan lebih memungkinkan ditemukan adanya keseriusan di dalmnya, tetapi keseriusan tidak selalu terdapat pada aktivitas berpikir. Bahkan, yang sering dijumpai, kebanyakan manusia berpikir tidak serius.

Akibatnya, mereka senantiasa melaksanakan berbagai amal atau aktivitas hanya semata-mata didasarkan pada aspek rutinitas (kebiasaan) dan kontinuitas (pengulangan). Kesia-siaan dalam cara berpikir mereka sangat tampak dengan jelas. Oleh karena itu, keseriusan dalam berpikir harus diusahakan dengan benar. Dalam hal ini, adanya tujuan merupakan asas dalam berpikir serius, sedangkan usaha untuk mewudkannya merupakan tujuan itu sendiri. Oleh karena itu, mesti dikatakan, bahwa keseriusan dalam berpikir bukan sesuatu yang alamiah; sekalipun pada sebagian orang —jika diperhatikan— keseriusan mereka dalam berpikir adalah hal yang tampak alamiah.

Namun demikian, keseiusan yang dimaksudkan bukanlah keseriusan absolut (mutlak), melainkan keseriusan yang setarap dengan apa yang sedang dipikirkan. Jika “keseriusan” seseorang dalam berpikir tidak setarap dengan apa yang sedang dipikirkannya, maka ia tidak dikatakan sedang berpikir serius. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:
Orang yang sedang berpikir tentang perkawinan tetapi ia tidak bermaksud untuk merealisasikan perkawinan tersebut. Pada saat demikian, ia tidak dikatakan sedang berpikir serius. Orang yang memikirkan perdagangan tetapi malah mengin-fakkan seluruh harta dagangannya yang mungkin akan memberikan keuntungan baginya juga tidak dikatakan sebagai orang yang serius memikirkan perdagangannya.

Orang yang berpikir ingin menjadi hakim tetapi tidak berusaha mewujudkannya dan hanya berupaya sekadar untuk menjadi karyawan di kantor pengadilan juga tidak bisa dipandang sebagai orang yang berpikir serius ingin menjadi hakim, tetapi hanya mungkin dianggap serius berpikir untuk menjadi seorang karyawan. Demikian pula seseorang yang berpikir agar bisa memberi makan keluarganya tetapi malah bermain-main dan berkeliling di pasar tanpa usaha. Pada saat demikian, ia pun tidak dianggap sebagai orang yang serius dalam memikirkan nafkah keluarganya. Demikianlah seterusnya.

Walhasil, berpikir serius meniscayakan adanya usaha untuk merealisasikan apa yang dipikirkan, dan usaha tersebut harus setarap dengan tujuannya. Jika seseorang tidak berusaha untuk merealisasikan tujuan dalam berpikirnya-meskipun sampai pada tarap pemikiran tertentu-atau berusaha mewujudkannya tetapi tidak setarap dengan apa yang dipikirkannya, maka ia tidak dianggap serius dalam berpikir.
Klaim seseorang bahwa ia serius dalam berpikir tidaklah cukup untuk membuktikan keseriusannya. Begitu juga usahanya untuk menciptakan berbagai kondisi, fenomena, atau gerakan tertentu; baik berupa gagasan ataupun gerakan fisik; tidak cukup untuk menunjukan bahwa ia berpikir serius. Akan tetapi, yang menunjukkan seseorang serius dalam berpikir adalah upaya realnya untuk melaksanakan berbagai aktivitas fisik yang setarap dengan apa yang dia pikirkan. Dengan demikian, upaya real untuk melaksanakan sejumlah aktivitas fisik yang setarap dengan apa yang dipikirkan merupakan hal yang harus ada demi terwujudkan keseriusan dalam berpikir atau menjadi dalil bahwa seseorang berpikir serius.

Berbagai umat dan bangsa yang terpuruk, individu-individu yang malas, orang-orang yang tidak mau menanggung berbagai risiko, orang-orang yang didominasi rasa malu; rasa takut, atau ketergantungan kepada yang lain biasanya tidak pernah serius dalam apa yang mereka pikirkan. Alasannya, keterpurukan biasanya akan mendorong seseorang untuk senantiasa menginginkan yang mudah-mudah, sehingga dia enggan menyibukan dirinya untuk mengupayakan hal-hal yang lebih sulit dan berisiko; kemalasan bertentangan dengan keseriusan; ketidakmauan menanggung risiko akan memalingkan seseorang dari keseriusan; sementara rasa malu, takut, dan ketergantungan kepada yang lain juga akan menghalangi seseorang dari keseriusan.

Oleh karena itu, upaya mengangkat taraf berpikir, menghilangkan kemalasan, menghapus keengganan untuk menanggung risiko, membedakan antara rasa malu —yang wajib dimiliki karena sesuatu— dan keberanian, serta senantiasa bergantung pada diri sendiri (mandiri) merupakan beberapa hal yang harus dimiliki. Dengan begitu, akan terwujud keseriusan dalam berpikir pada setiap individu, bangsa, dan umat.

Sebab, keseriusan dalam berpikir tidak akan terwujud secara spontan, tetapi harus selalu diupayakan secara serius untuk diwujudkan.

Harus dipahami bahwa, urgensi atau keharusan dari adanya keseriusan dalam berpikir bukanlah tujuan dari berpikir itu sendiri, atau bukan demi mewujudkan pemikiran itu sendiri (sekadar demi kepuasan intelektual). Akan tetapi, yang betul, berpikir harus dilakukan semata-mata demi meraih suatu manfaat, bagaimanapun wujudnya. Lebih dari itu, berpikir harus dilakukan dalam rangka direalisasikan. Artinya, berbagai pemikiran yang dihasilkan oleh para ulama dan cendekiawan ataupun berbagai pengetahuan yang telah mereka capai sejatinya bukanlah ditujukan demi kepuasan, kesenangan, atau kenikmatan intelektual semata. Akan tetapi, semua itu dimaksudkan untuk dimanfaatkan atau direalisasikan dalam kehidupan. Oleh karena itu, salah besar jika ada orang mengatakan bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan dicari semata-mata demi ilmu itu sendiri.

Oleh karena itu pula, filsafat Yunani, misalnya, tidak bernilai sedikitpun, karena hanya merupakan sekumpulan pemikiran untuk dinikmati semata. Demikian pula seluruh ilmu pengetahuan yang tidak ada bisa dimanfaatkan

Sebab, ilmu pengetahuan sejatinya tidak dicari untuk dinikmati, tetapi untuk direalisasikan atau dimanfaatakan dalam kehidupan.
Keseriusan dalam berpikir tidak mengharuskan adanya “jarak yang dekat” ataupun “jarak yang jauh” di antara berpikir dan amal, karena amal sendiri merupakan buah dari aktivitas berpikir.

Seseorang kadang berpikir untuk dapat pergi ke bulan, sementara jarak antara berpikir dengan sampai pada tujuan tersebut acapkali jauh sekali. Ada juga orang yang berpikir tentang makan, tetapi jarak antara berpikir tentang makan dan realisasinya acapkali juga jauh. Sebaliknya, ada juga orang yang berpikir tentang bagaimana membangkitkan umatnya. Akan tetapi, kadang-kadang jarak antara berpikir tentang kebangkitan umat dan realisainyanya begitu dekat sekali. Walhasil, masalahnya bukanlah masalah jarak, karena jarak antara berpikir dan realisasi, tidak pasti dekat atau jauh, tetapi kadang-kadang dekat dan kadang-kadang jauh. Yang terpenting dalam hal ini adalah keharusan adanya realisasi di balik aktivitas berpikir, baik realisasi tersebut diupayakan oleh si pemikir sendiri ataupun oleh pihak lain.

Dengan demikian, berpikir wajib menghasilkan realisasi atau amal; baik berupa perkataan seperti yang dihasilkan oleh para ahli syair dan sastrawan, berupa tindakan nyata seperti yang dihasilkan oleh para ilmuwan dalam bidang ilmu-ilmu pasti; berupa langkah-langkah strategis seperti yang dihasilkan oleh para ahli politik dan ahli perang; ataupun berupa pekerjaan yang bersifat fisik seperti perang, makan, mengajar, dan yang lainnya.

Berdasarkan paparan di atas, untuk dapat menghasilkan buah yang sedang dipikirkan, berpikir mesti dilakukan dengan serius; baik buah tersebut nantinya diperoleh secara langsung atau malah gagal diraih sama sekali.

Artinya, keseriusan merupakan faktor yang harus ada dalam aktivitas berpikir.

Tanpa ada faktor keseriusan, aktivitas berpikir hanya akan sia-sia dan main-main belaka, serta hanya merupakan rutinitas yang terus-menerus karena adanya pengaruh adat dan kebiasaan. Rutinitas berpikir semacam itu hanya akan menjadikan seorang pemikir menganggap baik kehidupan yang dijalaninya. Lebih dari itu, ia pun akan menjauhkan setiap gagasan tentang perubahan, atau setiap upaya untuk berpikir tentang perubahan, dari benak manusia.

So….ayoo mulai berpikir serius tentang harapan….tentang mimpi….tentang cita-cita……

Jija Anwar
Yogya, oktober ’08

Older Posts »

Kategori